“Nggak mau, pokoknya Ogi ingin sepeda baru. Sepeda itukan sudah kuno, ma. Masa temen-temen Ogi punya sepeda baru, tapi Ogi masih pakai sepeda lama?, malu kan, ma” rengek Ogi sejak tadi siang. Memang akhir-akhir ini Ogi selalu merengek minta dibelikan sepeda baru pada mama. Mama hanya menghela nafas dan pergi meninggalkan Ogi yang masih cemberut.
Aku yang sejak tadi berada di dalam kamar tidak tahan dan kesal mendengar rengekan Ogi. Lalu aku keluar kamar “Untuk apa beli yang baru? Sepeda itu juga masih bagus dan belum kuno bentuknya. Kenapa sih kamu selalu ikut-ikutan teman-temanmu. Kamu kan sudah besar, sebentar lagi mau masuk SMP, masih saja seperti anak kecil”. Kulihat papa yang dari tadi membaca koran tidak berkomentar sedikitpun. Lalu aku mencoba menasehatinya “Kamu seharusnya bersyukur masih bisa punya sepeda. Coba lihat anak-anak yang kurang beruntung di jalanan, jangankan mikir ingin beli sepeda, buat sekolah bahkan untuk makan hari itu juga mungkin mereka harus berjuang dulu” “Aah… ceramah terus. Kakak sih tidak tahu perasaan Ogi kalau Ogi diejek teman-teman yang punya sepeda baru” timpal Ogi.
Tanpa pantang menyerah aku terus menasehati adikku satu-satunya yang terbilang sangat manja itu “Selain itu juga, sering kakak perhatikan kamu sering ceroboh, kalau bekas main sepeda disimpan seenaknya, seperti kemarin sehabis pakai, kamu tinggalkan begitu saja sepedamu di garasi tanpa menutup pagar dan mengunci sepeda kamu, terus bagaimana kalau ada yang mencurinya?” “Aah..cerewet!” kata Ogi.
Tiba-tiba papa memandang ke arah Ogi dan berkata “Kamu kok berkata seperti itu pada Kak Osa? Kakakmu benar. Pokoknya papa tidak akan membelikan kamu sepeda baru” tegas papa. Mendengar teguran papa, Ogi langsung masuk kamar.
Keesokan harinya, Ogi masih berada di dalam kamar dan belum siap-siap untuk pergi ke sekolah. Kadang-kadang kalau Ogi sedang malas bersepeda kami pergi bersama-sama ke sekolah diantar papa sebelum pergi ke kantor. Tapi hari ini, Ogi masih menjalankan aksi unjuk rasanya karena keinginannya tidak terpenuhi. Akhirnya aku dan papa pergi. Tinggal mama yang akan membujuk Ogi. “Ogi…buka pintunya sayang, mama mau bicara” dengan malas Ogi membuka pintu. “Masa gara-gara sepeda kamu tidak mau sekolah sih?” kata mama dengan lembut. “Habis, Ogi malu sama temen-temen, ma!” dengan tersenyum mama menjawab “Ya, sudah nanti mama coba bicara sama papa, biar nanti papa mau membelika kamu sepeda baru” mendengar jawaban mama, langsung Ogi tersenyum dan wajahnya berbinar-binar. “Benar, ma? Janji ya, ma!” ” Iya, tapi kamu juga harus berjanji sama mama untuk masuk sekolah dan memelihara sepeda barumu dengan baik. Jangan ceroboh seperti Kak Osa katakan. Kalau sampai hilang, pokoknya tidak akan ada sepeda baru lagi” “Beres, ma”. Kemudian Ogi langsung turun dari tempat tidurnya, mandi dan berangkat ke sekolah. Memang mama sering sekali memanjakan Ogi. Setiap keinginan Ogi, mama berusaha untuk mewujudkannya. Dan papa kadang-kadang tidak bisa berkutik jika mama meminta sesuatu.
Keesokan harinya, aku dan Ogi pergi ke sekolah diantar oleh papa. Dan ketika pulang sekolah aku melihat barang baru di dalam garasi. “Pasti mama membelikan sepeda itu untuk Ogi” kataku dalam hati. Ketika Ogi pulang “Hore…hore..asyik punya sepeda baru” teriak Ogi sambil masuk rumah dan mencari-cari mama. “Makasih ya,ma. Pokoknya mama is the best, deh!” puji Ogi. Lalu tanpa mengganti baju sekolahnya, Ogi langsung keluar rumah memakai sepeda barunya. Mama yang berteriak-teriak memanggilnya tidak dihiraukannya.
Dan hampir menjelang malam, Ogi baru pulang ke rumah,dan tidak peduli dengan mama yang kelihatan khawatir sejak sore tadi menunggu Ogi pulang. Ogi langsung pergi mandi, makan dan membersihkan sepeda barunya. “Besok aku pasti ke sekolah pakai sepeda baruku ini” tekad Ogi dalam hati. Lalu menutup pagar, mengunci sepeda dan masuk kamar untuk belajar lalu tidur.
Tidak seperti biasanya, pagi-pagi sekali Ogi sudah bangun lalu segera mandi. Hari ini dia bersemangat sekali untuk pergi ke sekolah, karena hari ini dia akan memamerkan sepeda barunya pada teman-temannya.
Sudah seminggu lebih, setiap bepergian Ogi tidak pernah lepas dari sepeda barunya itu. Dan sering sekali aku mengingatkan untuk berhati-hati akan sepedanya, karena akhir-akhir ini, di daerah sekitar kami sedang rawan akan pencuri. Bahkan dua hari yang lalu, tetangga depan rumah kehilangan sepeda motornya. Tapi dasar Ogi, nasehatku kadang masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri. Sudah beberapa kali aku melihat ketika pulang sekolah Ogi selalu menyimpan sepeda sembarangan dan lupa menutup pagar. Meskipun mama, papa dan aku sudah berkali-kali mengingatkannya, tapi dia tidak menghiraukannya.
Sampai pada suatu sore “Kak…Kak Osa, mana sepedaku!” “Ma….mama, lihat sepeda Ogi nggak, ma?” sambil teriak-teriak Ogi memanggil aku dan mama. Dengan kelihatan panik Ogi terus berteriak-teriak mencari sepedanya. Aku keluar kamar dan bertanya “Tadi terakhir kamu simpan dimana sepedanya?” “Ya disini, udah dimana lagi?” jawab Ogi dengan sewot karena panik sepedanya tidak ada di garasi. Lalu mama dan aku ikut mencari-cari tapi tetap saja tidak ketemu. “Tenang-tenang, coba ingat-ingat Ogi tadi menutup pagar tidak ketika masuk rumah? Dan sepedanya sudah kamu kunci?” tanya mama dengan lemah lembut. “Ogi rasa, Ogi tutup pintu pagar dan kunci sepedanya” jawab Ogi dengan suara parau hampir menangis. “Masa sih, tadi kak Osa pulang terakhir, melihat pintu pagar terbuka dan sepeda kamu letakkan dimana saja” kataku, “Malah Kak Osa yang menutup pintunya”. Akhirnya keluarlah air mata Ogi karena sadar dan menyesal sepeda barunya telah hilang dicuri orang. “Uhuk…uhuk…tadi Ogi lapar sekali, jadi sewaktu pulang sekolah Ogi langsung makan dan masuk kamar terus tidur, uhuk…uhuk..Ogi lupa ma, ketika Ogi bangun Ogi mau ke rumah Andri, tapi sewaktu dilihat sepedanya sudah tidak ada, uhuk..uhuk”. Ogi menangis dengan keras, karena sepedanya hilang disebabkan kecerobohannya sendiri. Dan semakin keraslah tangisannya ketika ingat pesan mama sewaktu akan dibelikan sepeda baru itu.
Memang, rasa penyesalan selalu datang belakangan.