Desember 22, 2007

Tegang Melepas Lajang (Mohon Doa Restunya Ya…)

Penantian itu tinggal dalam hitungan hari. Tujuh tahun mencoba saling memahami, mengenal dan saling meyakinkandiri. Insya Allah, Minggu tanggal 30 Desember 2007 nanti adalah hari di mana aku akan mengikat janji dengan seorang pria yang aku pilih sebagai suamiku. Semoga tidak ada aral melintang… Semoga Allah SWT menyatukan kami berdua dalam mahligai rumah tangga yang sakinah.

Aku minta doa restu dari semuanya…

Deg-degan begini ya… Takut, resah, gelisah, khawatir, bahagia.. semuanya bercampur aduk….

Desember 13, 2007

Tentang Masa Lalu Yang Buruk

Buatku, mengingat masa lalu yang buruk menjadi penting, saat aku bisa menjadikannya cermin, yang dengan menatapnya akan mengingatkan siapa diriku dulu, sekarang dan ingin seperti apakah aku saat bertemu kembali matahari di hari yang baru. Masa lalu adalah sebuah pelajaran praktis tentang hidup, bukan sekedar teori menjalani hidup.

Bagiku, masa lalu yang buruk menjadi penting, karena dengan mengingatnya aku tahu setiap jengkal perjalanan yang telah kutempuh, berapa lubang yang pernah aku terjatuh ke dalamnya, berapa banyak kakiku terantuk batu dan kerikil, seberapa sering aku tak tahu arah dan tersesat, dan seberapa banyak penyesalan yang aku rasakan.

Untukku, masa lalu menjadi penting, karena dengan mengingatnya aku tergugah untuk lebih berhati-hati dalam melangkah, agar tidak terperosok pada lubang yang sama, terantuk batu yang sama, salah arah lagi dan tersesat kembali. Masa lalu menjadi sangat penting bagiku, karena tanpanya aku tidak akan pernah bisa mencoba menjadi hamba yang lebih baik

Tapi bagiku, masa lalu yang buruk menjadi tidak penting, jika dengan mengingatnya aku menjadi takut menatap masa depan. Aku tidak peduli dengan masa laluku, jika dengan mengingatnya aku tergoda untuk mengulanginya kembali.

Wahai Yang menciptakan waktu, hamba berlindung kepada-Mu dari perasaan dirundung duka karena masa lalu, dan hamba berlindung kepada-Mu dari ketakutan untuk menghadapi masa depan karena teringat masa laluku yang buruk. Hamba tidak akan pernah bisa kembali ke masa lalu untuk memperbaikinya, karenanya berikan hamba kesempatan masa depan untuk memperbaikinya.

Desember 12, 2007

Harus Kemana Aku Mencari “Islam”?

Aku mencarinya di setiap sudut: Masjid, majelis taklim, televisi, radio, buku dan kini aku sedang mencarinya di Blog ini. Banyak sudah yang aku mintai tolong untuk menunjukkan di mana dapat menemukan islam yang sesungguhnya berada. Jawaban yang kutemui nyaris sama, “di sini Islam yang benar” terkesan berpromosi.

Aku mencari Islam karena yakin hanya ia adalah jalanku untuk memperoleh keselamatan di dunia dan akhirat. Tapi tetap saja ada perasaan yang menggelitikku untuk terus mencari Islam, sekalipun aku adalah seorang muslimah yang telah mengecap keislaman sejak dalam buaian kedua orangtuaku. Ada sesuatu yang mengganjal dalam benakku mengenai keislamanku. Terkadang aku sendiri masih meragukan keislamanku, mungkin karena pengetahuan agamaku yang terlampau lemah hingga keraguan itu tak jarang membuatku gelisah. Aku terkadang merasakan kelelahan batin saat mencari Islam yang sesungguhnya.

Aku sempat mempelajari beberapa aliran dalam Islam secara otodidak, juga pernah aktif dalam gerakan harakah, tapi tetap saja aku belum menemukan kepuasan. Entah kenapa… 

Di Blog ini aku berharap dapat memperoleh pencerahan yang dapat mengantarkanku menemukan Islam yang sebenarnya, yang dapat memberikan ketenangan dan kenikmatan dalam menjalaninya. Tapi yang aku dapati tetap seperti yang sudah-sudah: bertengkar, saling memaki, merasa paling benar dan saling membenci antar sesama muslim. Mungkin karena aku belum menemukan postingan yang tepat ya…

jadi, harus ke mana lagi aku mencari Islam…?

Desember 1, 2007

Sepeda Baru Ogi…

“Nggak mau, pokoknya Ogi ingin sepeda baru. Sepeda itukan sudah kuno, ma. Masa temen-temen Ogi punya sepeda baru, tapi Ogi masih pakai sepeda lama?, malu kan, ma” rengek Ogi sejak tadi siang. Memang akhir-akhir ini Ogi selalu merengek minta dibelikan sepeda baru pada mama. Mama hanya menghela nafas dan pergi meninggalkan Ogi yang masih cemberut.

Aku yang sejak tadi berada di dalam kamar tidak tahan dan kesal mendengar rengekan Ogi. Lalu aku keluar kamar “Untuk apa beli yang baru? Sepeda itu juga masih bagus dan belum kuno bentuknya. Kenapa sih kamu selalu ikut-ikutan teman-temanmu. Kamu kan sudah besar, sebentar lagi mau masuk SMP, masih saja seperti anak kecil”. Kulihat papa yang dari tadi membaca koran tidak berkomentar sedikitpun. Lalu aku mencoba menasehatinya “Kamu seharusnya bersyukur masih bisa punya sepeda. Coba lihat anak-anak yang kurang beruntung di jalanan, jangankan mikir ingin beli sepeda, buat sekolah bahkan untuk makan hari itu juga mungkin mereka harus berjuang dulu” “Aah… ceramah terus. Kakak sih tidak tahu perasaan Ogi kalau Ogi diejek teman-teman yang punya sepeda baru” timpal Ogi.

Tanpa pantang menyerah aku terus menasehati adikku satu-satunya yang terbilang sangat manja itu “Selain itu juga, sering kakak perhatikan kamu sering ceroboh, kalau bekas main sepeda disimpan seenaknya, seperti kemarin sehabis pakai, kamu tinggalkan begitu saja sepedamu di garasi tanpa menutup pagar dan mengunci sepeda kamu, terus bagaimana kalau ada yang mencurinya?” “Aah..cerewet!” kata Ogi.

Tiba-tiba papa memandang ke arah Ogi dan berkata “Kamu kok berkata seperti itu pada Kak Osa? Kakakmu benar. Pokoknya papa tidak akan membelikan kamu sepeda baru” tegas papa. Mendengar teguran papa, Ogi langsung masuk kamar.

Keesokan harinya, Ogi masih berada di dalam kamar dan belum siap-siap untuk pergi ke sekolah. Kadang-kadang kalau Ogi sedang malas bersepeda kami pergi bersama-sama ke sekolah diantar papa sebelum pergi ke kantor. Tapi hari ini, Ogi masih menjalankan aksi unjuk rasanya karena keinginannya tidak terpenuhi. Akhirnya aku dan papa pergi. Tinggal mama yang akan membujuk Ogi. “Ogi…buka pintunya sayang, mama mau bicara” dengan malas Ogi membuka pintu. “Masa gara-gara sepeda kamu tidak mau sekolah sih?” kata mama dengan lembut. “Habis, Ogi malu sama temen-temen, ma!” dengan tersenyum mama menjawab “Ya, sudah nanti mama coba bicara sama papa, biar nanti papa mau membelika kamu sepeda baru” mendengar jawaban mama, langsung Ogi tersenyum dan wajahnya berbinar-binar. “Benar, ma? Janji ya, ma!” ” Iya, tapi kamu juga harus berjanji sama mama untuk masuk sekolah dan memelihara sepeda barumu dengan baik. Jangan ceroboh seperti Kak Osa katakan. Kalau sampai hilang, pokoknya tidak akan ada sepeda baru lagi” “Beres, ma”. Kemudian Ogi langsung turun dari tempat tidurnya, mandi dan berangkat ke sekolah. Memang mama sering sekali memanjakan Ogi. Setiap keinginan Ogi, mama berusaha untuk mewujudkannya. Dan papa kadang-kadang tidak bisa berkutik jika mama meminta sesuatu.

Keesokan harinya, aku dan Ogi pergi ke sekolah diantar oleh papa. Dan ketika pulang sekolah aku melihat barang baru di dalam garasi. “Pasti mama membelikan sepeda itu untuk Ogi” kataku dalam hati. Ketika Ogi pulang “Hore…hore..asyik punya sepeda baru” teriak Ogi sambil masuk rumah dan mencari-cari mama. “Makasih ya,ma. Pokoknya mama is the best, deh!” puji Ogi. Lalu tanpa mengganti baju sekolahnya, Ogi langsung keluar rumah memakai sepeda barunya. Mama yang berteriak-teriak memanggilnya tidak dihiraukannya.

Dan hampir menjelang malam, Ogi baru pulang ke rumah,dan tidak peduli dengan mama yang kelihatan khawatir sejak sore tadi menunggu Ogi pulang. Ogi langsung pergi mandi, makan dan membersihkan sepeda barunya. “Besok aku pasti ke sekolah pakai sepeda baruku ini” tekad Ogi dalam hati. Lalu menutup pagar, mengunci sepeda dan masuk kamar untuk belajar lalu tidur.

Tidak seperti biasanya, pagi-pagi sekali Ogi sudah bangun lalu segera mandi. Hari ini dia bersemangat sekali untuk pergi ke sekolah, karena hari ini dia akan memamerkan sepeda barunya pada teman-temannya.

Sudah seminggu lebih, setiap bepergian Ogi tidak pernah lepas dari sepeda barunya itu. Dan sering sekali aku mengingatkan untuk berhati-hati akan sepedanya, karena akhir-akhir ini, di daerah sekitar kami sedang rawan akan pencuri. Bahkan dua hari yang lalu, tetangga depan rumah kehilangan sepeda motornya. Tapi dasar Ogi, nasehatku kadang masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri. Sudah beberapa kali aku melihat ketika pulang sekolah Ogi selalu menyimpan sepeda sembarangan dan lupa menutup pagar. Meskipun mama, papa dan aku sudah berkali-kali mengingatkannya, tapi dia tidak menghiraukannya.

Sampai pada suatu sore “Kak…Kak Osa, mana sepedaku!” “Ma….mama, lihat sepeda Ogi nggak, ma?” sambil teriak-teriak Ogi memanggil aku dan mama. Dengan kelihatan panik Ogi terus berteriak-teriak mencari sepedanya. Aku keluar kamar dan bertanya “Tadi terakhir kamu simpan dimana sepedanya?” “Ya disini, udah dimana lagi?” jawab Ogi dengan sewot karena panik sepedanya tidak ada di garasi. Lalu mama dan aku ikut mencari-cari tapi tetap saja tidak ketemu. “Tenang-tenang, coba ingat-ingat Ogi tadi menutup pagar tidak ketika masuk rumah? Dan sepedanya sudah kamu kunci?” tanya mama dengan lemah lembut. “Ogi rasa, Ogi tutup pintu pagar dan kunci sepedanya” jawab Ogi dengan suara parau hampir menangis. “Masa sih, tadi kak Osa pulang terakhir, melihat pintu pagar terbuka dan sepeda kamu letakkan dimana saja” kataku, “Malah Kak Osa yang menutup pintunya”. Akhirnya keluarlah air mata Ogi karena sadar dan menyesal sepeda barunya telah hilang dicuri orang. “Uhuk…uhuk…tadi Ogi lapar sekali, jadi sewaktu pulang sekolah Ogi langsung makan dan masuk kamar terus tidur, uhuk…uhuk..Ogi lupa ma, ketika Ogi bangun Ogi mau ke rumah Andri, tapi sewaktu dilihat sepedanya sudah tidak ada, uhuk..uhuk”. Ogi menangis dengan keras, karena sepedanya hilang disebabkan kecerobohannya sendiri. Dan semakin keraslah tangisannya ketika ingat pesan mama sewaktu akan dibelikan sepeda baru itu.

Memang, rasa penyesalan selalu datang belakangan.